Episode Transformasi

Cerita ku ini nyata adanya. Baiklah, akan ku ungkapkan kisah hidup yang aku bangga-banggakan namun pada akhirnya perlahan justru berubah menjadi kisah kelabu. Bukan hendak menceritakan aibku sendiri, apalah untungnya. Aku hanya ingin agar kisah ini turut menjadi renungan bagi siapa saja untuk bertransformasi menuju cinta Nya. 
Kawan… Menari benar-benar menjadi hobi yang seakan menyatu dalam diri. Kau tahu, entertain yang satu ini adalah hobi ku sejak memasuki dunia Taman Kanak-kanak (TK). Setiap ada perlombaan maupun festival menari, namaku selalu tercantum dalam daftar peserta sebagai perwakilan. Bahkan kau mungkin tak percaya dengan umurku yang masih sekecil itu, aku menjadi contoh sekaligus pemimpin teman-teman yang lain untuk urusan menari. Itu karna aku terlihat lebih pandai dari teman ku yang lain. Aku lebih ceria dan atraktif. Lebih mewakili cerita dari tarian itu sendiri. Dan lebih sering menyumbangkan ide tarian. Itu bukan pendapatku! Hal itu pun baru ku ketahui dari bude zsaat aku beranjak remaja. Waktu aku kecil dulu aku tinggal bersama saudara perempuan ibu yang selalu aku panggil bude dan olehnya aku dimasukkan ke salah satu Taman Kanak-kanak yang ada di Surabaya. Sehingga bude lah yang benar-benar aktif mengetahui seluk-beluk diriku waktu itu. Sedang ayah dan ibu ku bekerja pada salah satu perusahaan kapal besar yang beroperasi di Timur Indonesia, Irian Jaya, sehingga mereka sendiri pun mencari tau informasi tentang ku hanya bersumber dari bude saja. Karna hanya budelah yang dekat dengan ku.
Sampailah aku memasuki fase Sekolah. Aku terus melanjutkan kegemaranku itu. Hanya bedanya aku tak lagi tinggal bersama bude. Aku tinggal bersama ibu dan ayah. Namun tidak di Irian Jaya, kami tinggal di Batam. Skill ku dalam menari semakin menjadi-jadi. Menciptakan tarian kontemporer, modifikasi dan modernisasi gerakan, kesemuanya membangkitkan gairah dan membakar semangat dalam hidupku. Alunan musik itu seakan bekerja lebih harmonis ketika aku menggerakkan tangan, berpindah tempat, berubah gerak badan dan segala aktivitas tarian lainnya. Aku bisa menari tarian tradisonal khususnya Melayu dan tarian modern. Dari sini lah aku mengumpulkan banyak portofolio prestasi ku. Ya, aku berkarya disini.
Bahkan saat tahun pertama di SMK, aku membuat grup tari khusus modern dance dengan tiga orang personil termasuk diriku. Inisial nama grup kami adalah “Z Crew” yang lumayan dikenal dalam waktu dua tahun sejak saat pembentukan itu. Nama kami diambil dari nama tiga kapal kecil yang berlayar bersama yang katanya dahulu dipakai di Laut Tengah. Sedikit alasan mengapa nama kami “Z Crew”. Karena awalnya kami hanya bertiga. Namun seiring berjalan waktu, kami ekspansi terus dan menambah personil menjadi empat dan kemudian yang terkahir menjadi lima. Entah dari mana kami mendapatkan nama itu. Tapi sudahlah, aku tak hendak menceritakan hal itu kali ini.
Dan episode kehidupan akan terus berjalan, memenuhi amanah dari Nya. Menorehkan sejarah tentang aku, kehidupanku, dan tentunya semua orang-orang yang terlibat dalam hidupku. Mengajarkan arti cinta, mengenalkan tentang kasih sayang Ilahi dan berjuta makna lainnya. Kawan. Kau tahu, alur cerita hidupku kini tak sama dengan yang dulu. Semua berubah ketika aku masuk dalam aturan cintaNya. Aku seakan mendapat sinaran yang menerangi relung jiwa yang teramat gelap ini. Itulah mengapa aku katakan pada awal cerita kisah yang ku banggakan berubah menjadi kelabu dalam perspektifku sendiri. Namun kemudian aku memasuki fase indah yang sebenar-benar indah setelahnya. Aku berubah menjadi sosok muslimah. Dari mulai penampilan hingga aktivitas sehari-hari. Aku tinggalkan menari itu. Bisa kau bayang kan? Bukan hal mudah untuk merubah kesukaan yang bertahun-tahun mendarah daging dalam diriku ini dengan sesuatu yang bertolak belakang dengannya. Bahkan dulu aku sempat berfikir, bahwa menari itu adalah hidupku. Dan sekarang aku harus merubah penampilan ku. Penampilan yang Allah inginkan, bukan yang aku inginkan apalagi yang orang lain inginkan.
Kau pasti ingin tahu kenapa aku berubah. Terlebih latar belakangku yang jauh dari nilai-nilai Islami. Meski itu yang terjadi didiriku, namun hidayah dari Allah itu hadir pada siapa saja sesuai dengan kehendakNya. Aku mulai mengenakan jilbab tak lain karena kemurahanNya menarik ku untuk keluar dari kubangan lumpur dosa melalui dorongan, perhatian dan kesabaran dari sahabat-sahabatku. Mereka aku juluki sebagai bintang syurga di hatiku. Ah… Aku benar-benar mencintai mereka karena Nya. “Ya Robbi, kumpulkan kami kelak di Jannah Mu”. Dan sampai sekarang pun tak ada kata-kata yang dapat mewakilkan perasaan hatiku untuk mengungkapkan niatku berubah selain karena Allah azza wajalla.
Saat itu, aku baru saja melangkah ke tahun terakhir jenjang pendidikan SMK. Pada waktu itu, meski dengan niat yang belum juga lurus, “Kayaknya lucu deh kalau pake jilbab”, namun siapa sangka, ternyata hidayah itu menular pada ibu ku yang saat itu juga masih dengan gaya gaulnya, perlahan mulai melirik kerudung untuk menutup auratnya. Belum rapi memang, but better. J
Dunia kemudian seolah berputar 180 derajat saat aku mulai merasakan nyamannya hidup sesuai dengan perintah Allah dan risalah yang Rasulullah kita bawakan. Dan tetap saja sampai sekarang aku masih belajar, dan akan terus belajar untuk memperbaiki diri. Tak bisa ku bayangkan jika saat ini aku masih bergelut di dunia entertain itu. Mungkin aku sekarang entah berada dimana dan mungkin saja aku menjadi penari professional yang terkenal dan masuk ke berbagai stasiun TV swasta internasional. Mungkin. Kau mungkin sekarang sedang menertawakan ku tentang ini. Terlalu berlebihan kan? Tapi tidak. Kalau kau tahu, prestasi menariku bersama teman-teman ku sudah sampai tahap diundang oleh sanggar lain untuk membuat konser tarian gabungan, bahkan kami sempat diundang untuk mengisi show disalah satu televisi swasta di negeri kita ini dengan apresiasi honor. Kami juga bahkan pernah menari dalam festival tarian se-Asia. Itu bukan isapan jempol belaka kawan!
Begitulah, kembali lagi kepada hidayah Allah. Ia memberi hidayah pada siapapun yang dikehendakiNya. Aku bersyukur karna Allah beri aku kesempatan. Aku bersyukur pula aku punya teman-teman yang tak lelah bersabar membimbing dan menemaniku dalam memperbaiki diri. Sahabat, perlu kau tahu. Hidayah itu mahal harganya. Jangan kau menunggu datangnya hidayah menghampirimu. Namun kejarlah hidayah itu. Meski perjalanannya tidaklah mudah, namun bukan berarti tak mungkin. Aku menginginginkan orang-orang yang turut berkisah dalam hidupku kelak dipertemukan kembali dalam JannahNya. Termasuk kau yang bisa saja belum pernah ku kenal. Atas nama cinta kepada Allah, Tuhan ku dan Tuhan mu, maka berubahlah menjadi sosok sesuai yang Ia inginkan. Sungguh, aku berharap pada peningkatan kapasitas pribadi ini semoga menjadi renungan tentang selaksa cinta tertinggi yang hanya kepada Nya kita tempatkan.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »