You are my du’a which came true


Ini adalah cerita dari penggalan kisah yang terlupa.

Ternyata dulu aku pernah buat tulisan kalau aku sebel banget dijodoh-jodohin sama seseorang yang ternyata doi adalah suami ku sekarang. Masalahnya yang ngejodoh-jodohin aku tuh teman-teman kami sendiri. Bahkan aku sampai teramat sangat berharap supaya doi segera menikah, tapi bukan sama aku. Ingat, bukan sama aku! Titik. Baca deh betapa kesalnya aku dijodohin sama doi di artikel Kesel Mode On.

Selain itu, ternyata dulu-dulu lagi, sebelum aku kesel dijodohin sama si doi, aku pernah berdo’a meminta jodoh dengan menyebut nama si doi. Lah? Kok bisa? Jadi gini. Aku mulai hijrah itu di tingkat kedua SMK. Allah menuntunku pada hidayahNya melalui teman-teman organisasi rohis di sekolah. Organisasi ini setidaknya memiliki 7 anggota yang sangat solid baik itu laki-laki maupun perempuan. Nah, si doi salah satunya. Aku mengenal mereka satu demi satu secara baik. Dan mereka menerima kehadiranku apa adanya. Sampai pada suatu ketika aku pernah jatuh hati pada si doi. Jatuh hati karna, aku belum pernah melihat lelaki yang perangainya baik sebaik doi dan sabar sesabar doi. Ditambah lagi doi rajin banget puasa sunnah dan duha di sekolah. 

Pada awal-awal hijrah itu, saat awal-awal pula aku semangat hijrah untuk melakukan suatu perbaikan dalam diri, melihat doi rasanya seperti menemukan kesamaan. Yap, setelah hijrah tipe laki-laki keren juga ikutan hijrah di mataku. ”Wah, doi aku banget nih”. Tentu aku jadi semangat juga untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Disatu sisi ada pesaing, disisi lain ada sosok idaman. Belakang aku tersadar bahwa pemikiran kayak gini sangat-sangat TIDAK patut. Jangan di contoh ya! Tak terasa dalam untaian salah satu doa panjangku, aku pernah menyebut nama doi. “Ya Allah. Jika May menikah kelak, tolong pasangkan May dengan laki-laki yang baik dan solihnya seperti Dedi”. Nah loh?! Seminggu dua minggu aku masih berharap dengan doa yang sama seperti itu. Tapi, tersadar setelahnya. “Ah, mana mungkin kali yak. Jauh soalnya. Jauh banget. Kayak langit sama bumi. Aku seperti apa sebelum hijrah, dia solihnya seperti apa. Sadar May, sadar May!” Begitu fikir dalam hati. Sehingga semenjak itu aku hanya berfokus pada perbaikan diri ku saja. Selain tersadar aku dan dia jauh berbeda, aku tersadar juga karna niat hijrahku sedikit demi sedikit mulai tercemar toksin. Untuk urusan jodoh, aku serahkan seserah-serahnya kepada Allah. Sambil tetap berharap jodoh yang terbaik. Dan adab doaku terhadap Robbku harus aku perbaiki. Sudah diazzamkan dalam hati, bahwa itu untuk pertama dan terakhir kali isi doaku seakan mendikte. Aku akan lebih senang dan bahagia jika segala ketetapan dalam diriku adalah yang dikehendaki sang Robbi, pilihan Nya. Baik itu ketetapan pahit atau manis dalam pandangan mata ku yang terbatas ini. “But, you are my du’a which came true, darling”. Senengnya seneng pake banget inih ^^.

Penggalan kisah yang terlupa diatas, seakan muncul kembali secara jelas dalam ingatan sadarku setelah menikah. Dan, maasyaallah. Luar biasa sekali Allah mengatur sekenario kehidupan ini. Meleleh banget rasanya. Dititipin rasa suka dan tidak suka. Selain itu juga aku dihadapkan pada jalan yang cukup berliku sebelum pada akhirnya sampai ke doi. Jalan yang juga menguras perasaan. Menitikkan air mata. Jalan yang diajarkan untuk menuju gang sabar, dan seterusnya. Ah… Luar biasa sekali lah pokoknya.

Semoga teman-teman yang sedang menanti pujaan hatinya, Allah beri kekuatan untuk selalu berfokus pada perbaikan diri. Sehingga kelak Allah akan pasangkan kita pada pasangan yang juga senantiasa dalam perbaikan diri. Dan juga, semoga senantiasa dilimpahkan kesabaran dalam hati-hati kita untuk menghadapi ujian apa saja dalam hidup ini. Aamiin yaa Robb. 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »