Bertemu CINTA di tahun 2017

Hallo semua.
Tahun 2017 memiliki arti tersendiri untuk aku dan keluarga besar ku. Ya. Bertemu dengan cinta se-hidup se-syurga, telah sah menjadi sepasang suami istri, diikat dalam sebuah perjanjian yang berat, dihadapan agama dan hukum Indonesia, (*penting banget ini ditulis yak). Siapa sangka, cinta dunia dan akhirat ku ternyata adalah teman semasa SMK dahulu.


Pertemuan kami
Bermula dari kisah liku yang sedikit panjang, *menurutku. Proses ta’aruf atau perkenalan yang aku lakukan dimulai pada akhir tahun 2015. Saat itu usia ku 22 tahun lebih. Mulanya, salah seorang guru SMK ku dulu sedang mencari seseorang yang akan dipasangkan untuk anak saudara guru beliau dulu. Aduh, ngerti gak ya?. Anggap saja mengerti ya. Sebut saja anak saudara guru dari guruku itu dengan sebutan “Mawar”. Eh. Oke, let’s make it simple!. Sebut saja “A”.  Dan, aku adalah target perjodohan guruku pada waktu itu. Saat itu, antara aku dan A tidak tahu kalau kami akan di jodohkan. 

Kami pernah saling mengenal di salah satu organisasi ekstra kampus, namun hanya sebatas saling tahu saja. Oh, nama dia itu A, titik. Singkat cerita, aku dihadapkan pada pilihan hidup yang lain, yaitu studi ke Korea. Tentu orang tuaku tidak akan setuju jika aku meninggalkan kesempatan yang belum tentu akan didapatkan dikemudian hari kelak. Selain itu, menurut orang tua, usia mudaku harusnya aku gunakan sedikit lebih lapang lagi sebelum nantinya memasuki gerbang pernikahan. Sedang aku sendiripun tak benar-benar mantap meneruskan perjodohan setelah melakukan sholat istikhoroh. Sehingga perjodohan itu batal dari pihak ku. Oke, batal!. Proses itu tidak lama, hanya satu bulan. Berakhir tepat di awal tahun 2016.

Selang beberapa waktu setelah pembatalan perjodohan tersebut, aku sendiripun batal mengikuti program belajar ke negeri gingseng itu karna satu dan lain hal yang bersifat teknis. Perjodohan tak jadi, ke Korea pun tak jadi. Pahit. Tapi sepahit apapun itu, show must go on, right? Hidup tetap berjalan. Akupun melewati hari demi hari di tahun 2016 seperti mahasiswa strata dua pada umumnya. Tetap aktif mengikuti kelas tanpa ada rasa gundah gulana yang berarti. Hingga pada pertengahan tahun 2016, cerita tentang percintaan dimulai kembali. Genap usiaku 23 tahun saat itu, usia dimana aku menargetkan diri untuk menikah. Aku dihubungi oleh salah seorang senior organisasi ekstra kampus. Seorang perempuan yang tentunya sudah menikah dan bermaksud menjodohkan ku dengan teman suaminya. Sama seperti sebelumnya, diawali dengan sholat istikhoroh. Pertimbangan ini itu telah aku fikirkan, walaupun pada saat itu aku tidak memiliki perencanaan lain semisal studi ke Korea seperti sebelumnya. 

Perlu waktu seminggu untuk menjawab “iya, bersedia diproses”. Hingga pada saat proses perkenalan itu tiba, satu hal yang membuat aku terkejut adalah si A. Bukan, bukan karna dia hendak menacariku lantaran gagal perjodohan kemarin, tetapi dia adalah calon yang ditawarkan untuk kedua kalinya. Dan belakangan aku mengetahui bahwa si A juga terheran-heran kalau ternyata aku lagi orang yang hendak dijodohkan untuknya. ”Aaaaaa… Apakah ini yang dinamakan jodoh tidak kemana?” Timbul perasaan percaya diri berlebih dalam penentuan sikap hidup setelahnya pada waktu itu. Padahal hidup ini ditentukan oleh Dia yang Maha Kuasa. Kita hanya berusaha. Tetap berdoa, namun hati begitu yakin bahwa A adalah akhir penantian. Amboi, alangkah berlebihan kepercayaan diriku itu.

Proses perkenalan terhitung sangat lama, kurang lebih 9 bulan waktu yang diperlukan untuk ku bertemu dengan si A, A bertemu dengan keluargaku, dan aku bertemu dengan keluarga si A. Namun, proses tersebut terhenti dari pihak si A. Ya, kali ini batal dari pihak A. Dengan alasan proses yang terlalu lama dan memang ada hambatan, saat itu ayahku baru saja mendapat kerja untuk berlayar pada sebuah kapal yang beroperasi di luar Kota Batam, tepatnya di Banjarmasin. Sehingga dirasa proses ini akan memakan waktu lebih lama lagi. Aku sendiri pun berfikir bahwa proses perkenalan saat itu teramat sangat lama. Proses ta’aruf yang ideal itu tidak terlalu lama. Tidak ada angka pasti memang. Namun, menjaga hati itu tidaklah mudah. Maka sebaiknya jika ingin melakuakan proses ta’aruf, harus benar-benar sudah mempersiapkan diri dan mengkondisikan keluarga dan lingkungan. Tapi apa yang berlaku padaku saat itu adalah diluar keinginanku, beyond my controll.  Mulailah tersadar, bahwasanya aku tidak benar-benar menyerahkan seluruh urusanku kepada-Nya. Pelajaran hidup pertama dicerita ini.

Singkat cerita *lagi, belum selesai “pemulihan hati”, guru ngajiku yang sudah lama sekali aku tidak berjumpa dengannya, datang menghampiri ke kediaman orang tuaku. Maksud dan tujuan kedatangan beliau adalah untuk bersilaturahim ke orang tua karna memang guru ngaji tersebut sudah sangat dekat dengan orang tuaku. Dan tujuan lain adalah menawarkan calon imam untukku. Awalnya aku menolak dengan dalih belum ingin melakukan proses dulu. Aku ceritakan semua yang terjadi dengan harapan sang guru memaklumi kondisiku. Sehingga aku beralasan menginginkan ketenangan untuk beberapa saat. Dan lagi, penolakanku disertai solusi berupa pemberian nama-nama beberapa teman yang sudah siap untuk menikah. Berharap tidak mengecewakan sang guru yang datang jauh-jauh kerumah. Tapi sang guru menganjurkan untuk sholat istikhoroh sebelum menentukan segalanya. Baiklah, nasihat itu aku lakukan. Pada pekan setelahnya, entah mengapa aku dengan ringan menyatakan bersedia untuk diperkenalkan dengan calon imam darinya. Ah, hati ini memang mudah terbolak balik. Pelajaran kedua. Dan sudah jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Lagi, aku melupakan untuk menyerahkan semuanya pada-Nya.

Aku sendiri tidak tahu persis alasan menerima proses perkenalan itu. Setelah ada kata “ya”, sang guru memberikan biodata calon yang dikirim melalui whatsapp. Pada saat biodata itu terbuka, terbaca langsung sebuah nama. Dan, speechless. Bukan, si A yah. Mungkin kalian akan menyangka itu A lagi. Bukan. Yang jauh lebih mengagetkan adalah dia teman sekolahku dulu. Selain teman sekolah, juga teman organisasi. Sehingga sangat sering kita berkomunikasi untuk kepentingan sekolah dan organisasi.  Dan lumayan tahu baik buruknya. Apalagi berteman, tidak ada hal yang ditutup-tutupi, marah ya marah, kesal ya kesal, sependapat ya sependapat, jelek ya jelek. Banyak jeleknya kayaknya, ihihi. Sebab memang dulu kami jarang sekali akur, tapi sering juga sih sepemahaman. Dan aku akan merasa sangat canggung jika dia, teman yang terlalu dikenal (menurutku saat itu), bakal menjadi suamiku kelak. Kecanggungan macam apa yang akan terjadi dalam rumah tangga itu nanti? *lebay-labay

Langsung pada saat itu juga aku menolak dengan blak-blak kan. Gak mau lah, gak enak lah, malu lah, canggung lah. Entah apa saja alasan tidak masuk akal yang bisa aku keluarkan untuk menjadi sebab tidak dilanjutkannya proses itu. Tentu saja alasan tidak masuk akal itu terdengar geli di telinga sang guru. Lagi-lagi sang guru menyarankan untuk beristikhoroh. Dan ya, aku lakukan kembali.

Seminggu beristikhoroh, kemudian aku sampaikan ke orang tua. Daaaaaaan, tanggapan orang tua adalah mereka teramat menyetujui proses tersebut. Sudah aku jelaskan di atas, kalau si dia adalah teman akrab organisasi, kami sering mengadakan rapat kecil di rumah, atau sekedar buka puasa bersama di rumah, sehingga orang tua tahu satu persatu semua teman-teman orgainsasiku, baik yang perempuan maupun yang laki-laki.

Tiba-tiba saja, entah kapan persisnya, hati yang berat berubah menjadi ringan setelah istikhoroh dan setelah mengetahui betapa bahagianya orang tua terhadap calon menantunya.  Sehingga proses itupun berlanjut dan berjalan apa adanya. Mudah. Sangat mudah dan ringan, hingga tiba-tiba proses sudah tahap ini, persiapan sudah seperti, dsb. Pelajaran ketiga. Terkadang kita faham ilmunya. Sudah pernah salah. Tapi masih saja terjatuh berulang kali di lubang yang sama. 
Bersyukur Allah Maha Pemurah. Dan itulah mengapa, kita seharusnya senantiasa melakukan pembaharuan niat. Tidak hanya di awal, niat perlu selalu diperbaharui di tengah pada saat prosesnya, dan juga di akhir. Jadi teringa-ingat lagi? Niat menikah untuk apa? Dan lagi, serahkan semuanya pada pemilik kerajaan langit dan bumi ini. Kita ini makhluklemah tak berdaya. Jika kata Nya jadi, maka terjadilah. Berserah diri setelah berusaha. Maka hidup akan ringan. Jika gagal, kita akan bersabar dengan lapang dada. Jika dikabulkan kita bersyukur bahagia. Yakan?
Hingga tiba lah hari H. Tanggal 16 Juli 2017, adalah hari pernikahan kami.


Perkenalkan keluarga besar baru kami.
Dan dia, dia adalah suami yang telah terpilih mengisi ruang hati.
Dedi Kurniawan... Elepyu ^^

Bagaimana dengan si A. Sebagai saudara seiman, tentu tetap menginginkan yang terbaik untuknya. Dan benar saja, A juga melangsungkan pernikahan satu hari sebelum hari pernikahanku. Dan kita saling bertukar undangan. Indah sekali bukan jalan cerita ini?

Apa perlu diceritakan perjalanan ini dari si A? Kenapa tidak langsung pada Akang Dedi Kurniawan? Menurut pemikiran dangkal ini. Perlu. Semua yang terjadi dalam hidup kita bukanlah suatu kebetulan, ada sutradara powerfull yang menskenariokan dan menjalankan cerita sesuai yang dikehendaki-Nya. Dan ada banyak hal yang bisa kita ambil darinya. 
Oh iya, jangan ukur cerita ni dengan cerita kamu yah. Kamu pasti juga punya cerita indahmu sendiri. Intinya, jangan lupa bahagia ya.

Next, aku bakal cerita tentang persiapan pernikahan sekaligus vendor-vendornya. Ditunggu yah! 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »