Puisi

Efek gabung sama Komunitas Aksara bawaanya nyastra.
Digrup itu agaknya yang anak akuntansi cuma berapa biji aja deh.
Selainnya anak Sastra Indonesia semua.
Tiap kali ada tugas puisi, puisi mereka keren-keren wak.
Lah gueh...? -_- *muter belakang tertunduk malu.


Kali ini mau ngerangkum kulwa tentang puisi deh. Narsumnya Mba Eka Damayanti.

Puisi! Puisi? Puisi!?
Puisi itu genre sastra yang tidak terikat oleh tata bahasa.
Nah.. Makanya ada macem-macem penyimpangan dalam penulisannya.
Tujuannya gak lain supaya nimbulin efek puitis, kesan ekspresif, serta penyampaian makna yang di inginkan si pengarang.
Penyimpangannya bisa macem-macem mulai dari kata, tanda baca, sampe ke penulisannya.
Semenyimpang apa pun puisi tetap memiliki kaidah kebahasaan yah gaes.
Misal nama geografis ditulis huruf kapital, penulisan titi mangsa di akhir puisi: kota koma tanggal bulan tahun (Jogja, 16 Februari 2016)

Pertanyaannya. Gimana cara mulai membuat puisi?
Seorang penyair sejatinya tidak pernah (mem)buat puisi.
Seperti (r)asa, ada kalanya ia meluap begitu saja atau justru melelap dengan tenangnya.
Hanya saja bagi seseorang yang benar-benar belum pernah memulai dalam puisi bisa belajar dari MEMBACA dulu sebelum akhirnya memuisi.
Membaca bukan hanya buku-buku puisi, tetapi juga membaca hati daun-daun gugur, rintik hujan, juga embun.
Apa saja di dalam dan di luar kita.

Puisi sama halnya dengan manusia.
Lahir - tumbuh - mati.
Ada yang lahir kemudian dikenal, ada juga yang lahir tanpa pernah ada yang mengenali.
Itulah matinya puisi, ketika tanpa adanya apresiasi.

Nah... Berikut cara yang bisa kita lakukan untuk mengapresiasi puisi.
1. Keluarkan puisimu dari laci belajarmu atau dari laptop berdebumu.
Intinya dari ketersimpanan.
PUBLIKASIKAN puisimu!
2. Bacakan
3. Tampilkan
4. Diskusikan
5. Buat masyarakat terinspirasi

Oh iya.
Yang diperlukan dalam puisi adalah yang tidak diperlukan.
Begitu pula sebaliknya.
Yang tidak diperlukan dalam puisi adalah yang diperlukan.

Sejatinya puisi sudah memiliki jiwa sebelum ditulis.
Karena penyair memikir dan merasakan lebih dulu sebelum menuliskannya.

Nah, untuk sampai pada aktivitas menuliskannya, kita tersandung pada hal-hal yang tidak tulus. Semacam emosi negatif, nafsu dunia, keinginan untuk tenar & banyak penggemar, dll.
Yang justru memupus ketulisan puisi yang akan kita tuliskan.
Jadi, yang harus dihindari dalam berpuisi adalah bermacam-macam tendensi yang mungkin tidak kita sadari.

Sekian.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »