"rasanya"

Kalau memang aku harus mencoret angan itu dari kata "rasanya", tak apa. Akan ku lakukan.Dan sudah ku lakukan sekarang.


Rasa kantuk ku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini.

Sudah panjang lebar ku ceritakan, namun ternyata aku hanya menggangu pekerjaannya saja.
Kenapa tidak bilang dari tadi.
Rasa jengkel dan kesal itu menjadi bertubi-tubi atas diriku yang ternyata kurang memiliki perhatian.


Padahal tujuanku bercerita hanya untuk menyampaikan kata "rasanya" dan ingin mendengar pendapat dari mu tentang "rasanya" ini.

Berharap sekedar mendapat dukungan dan pertanyaan yang membangkitkan semangat ku.

Tapi nyatanya justru semangat yang baru ku kumpulkan itu berubah menjadi 0%.

Tak bersisa.


Sebenarnya tak masalah jika "rasanya" itu bukan diriku sendiri yang menjalaninya.

Atau bahkan itu tidak terjadi sama sekali. Aku hanya ingin berbagi cerita.

Tapi apa, dalihan datang dengan alasan karena tidak tenang. Tidak tenang atau tidak senang ?

Atau malah tidak percaya aku.

Katakan saja jika itu adanya.

Sebab, aku ditanyai terus tentang bagaimana dengan pernyataan ku yang ini, yang itu.


Seakan-akan aku memutar-mutar cerita.


Katanya mengerti.
Terus, kenapa minta dijelaskan lagi.

Kenapa coba..?


Namun...
Terimakasih sudah mengingatkan ku.
Untuk tidak menuliskannya dalam buku mimpi ku.
Terimakasih sudah mengingatkan ku.
Untuk mengingat-ingat kembali memoar dulu.


I'm not asking you to send apologize word to me.
No. 
But, i need more time to be stable again.
Don't ask me why.
Cee you at the right time....








Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 comments:

comments