Air mata itu

Waktu menunjukkan pukul 02.00 WIB.

Sembari aku mempersiapkan isi tas ranselku, ibu masih saja asik menasehati tentang bagaimana aku harus bersikap di negeri orang.
Aku yang dalam posisi dinasehati diam saja, berkhidmat mendengarkan ibu menyampaikan pesan cintanya. Sesekali ibu menanyakan tentang barang-barang kecil yang sering kali terlupa.
"Disana gak usah aneh-aneh. Kalau gak tau mbok yo tanya", kata ibu sambil memasuki balsem kedalam tasku.
"Bu, gak usah la bawa balsem segala. Kakak udah bawa minyak kayu putih kok", tolak ku pada ibu.
"Bawa aja. Kan kaki kakak masih gatel-gatel. Diolesin pake ini. Pake minyak kayu putih itu gak kerasa".
Tak dapat berkata-kata lagi, akupun manut apa yang dikatakan ibu. Dalam hati berharap semoga saja tu balsem gak mubazir disana.
"Ya udah tidur. Dapet 2 jam lumayan. Kalau ngantuk nanti tidur dipesawat aja"

Pagi-pagi sekali sebelum alarm di HP ku sempat berbunyi, aku sudah terbangun dari lelapku.






(Belum selesaiiiiii T_T)






Share this

Related Posts

Previous
Next Post »