PAL ALIF
(Play And Learning with Anak IsLam InovatiF)

Hari Senin tanggal 23 Januari 2012 .
Setelah segala keperluan dan tugas brosur di distribusikan ke tas jinjingku yang berbentuk trapesium berwarna coklat lusuh, aku melirik-lirik handphone ku yang terletak di atas meja. Ternyata jam di HP ku menunjukkan pukul 08.00 pagi. Dari tadi aku menanti-nanti sebuah sms masuk, sebab ada agenda yang akan ku jalani dan sudah membuat janji pergi bersama seseorang.

Taraa… Tiba-tiba nongol gambar surat berwarna kuning yang menandakan ada pesan masuk yang tertuju padaku. Dalam hati aku berharap sms itu dari seseorang yang ku nanti. Dan benar saja, sms itu dari saudari seniorku bernama Wita Sudirahayu. Seorang akhwat yang kuliah di Universitas Batam (UNIBA). Beliau di KAMMI di beri amanah di bidang SOSMAS (Sosial Masyarakat). Kegiatan yang akan mengisi hari ku pada waktu itu tak lain adalah program kerja dari sosmas. Nama acaranya adalah  PAL ALIF yang merupakan akronim dari Play And Learning with Anak IsLam InovatiF.

Cepat-cepat ku tekan tombol read di HP ku itu.
“Assalamu’alaikum ukhti. Gimana ? Udah siap ?”
“Wa’alaikumussalam kak. Kakak dimana?”, balas ku yang tidak sesuai pertanyaan karna udah ga sabar mau hadir kesana.
“Mayang dimana?”, balasan yang sama. Tidak sesuai dengan apa yang di tanya. Entah semalam ada angin dari arah mana yang membawa sinyal-sinyal ‘tidak sesuai’ itu.
“May di rumah ni kak. J”, ku balas.
“Okeh. Kak kesana sekarang ya”, kak wita memberi kode.
“OK”, balas ku singkat.

Waah, ternyata eh ternyata saya nebeng sama si empunya hajat.  Huhuhu…. Malu deh. Mau gimana lagi. Soalnya May gak di bolehin ayah buat bawa motor ke jalan raya. (haa…? Jadi selama ini bawa motor ke jalan mana may …?^^). Entah alasan seperti apa ayah melarangku membawa sepeda bermesin itu. Bukan karena ga bisa bawanya, tapi memang ga di bolehin.

Oh ayah… Mengapa teman-temanku begitu gampang membawanya. Sesuka hati mereka bisa pergi kemana saja. Kenapa aku yang udah gede gini ga di bolehin sih…? Salah ku apaa….? Apa karna ‘aku ga punya pulsaaaaaa’? (Gdubrak.. Pletak.. Guling-guling di jalan turunan bebatuan @!#$&^). Gak nyambung May. Plis dehh…

Langsung ku berpamitan dengan ibu ku, tak ketinggalan untuk bercipika-cipiki sebelumnya. Aku ga berpamitan dengan ayah. Waktu itu ayah lagi ga ada di rumah. Ayah lagi ke Palembang melihat sekaligus menjenguk keadaan disana, sebab kakek ku yang tercinta di panggil oleh Allah subhanahu wa ta’alla. Aku sangat sayang dan cinta sama kakek ku itu. Beliau walaupun sudah tua dan berumur tujuh puluh tahunan, tapi masih terlihat gagah, berwibawa. Jika berbicara tidak pernah menyakitkan hati orang. Bersikap lemah lembut tapi tegas. Itu lah yang membuat ku bangga kepada kakek. Pokoknya kakek ku itu adalah kakek yang paling luar biasa sedunia. Saat kepergiannya, aku sangat terpukul. Padahal kedekatan kami tak sering bertatapan muka, hanya saja saat aku masih kecil dulu aku sering mengunjungi kakek. Terakhir ku melihatnya saat liburan sekolah tahun 2011 lalu. Teriris-iris rasanya. Aku seakan-akan tidak percaya. Itu perasaan ku sebagai cucunya, bagaiamana ayahku yang anak kandungnya kakek.  Jauh lebih terpukul daripada aku. Tak terasa butiran air mata ku pun jatuh dan membasahi sedikit jilbabku.

Tak lama kemudian, ku dengar suara klakson motor di depan rumah. Cepat-cepat ku hapus air mata yang terlanjur menetes itu. Dalam hati sudah ku terka, ini pasti kak Wita. Saat ku lihat, tebakan ku benar sekali. Kak Wita udah nunggu di atas motornya. Langsung saja, tanpa pikir panjang aku keluar dari rumah dan langsung menemui kak wita. Sebaris senyum dilemparkan kepadaku. Ku tangkap senyum itu dan langsung secepatnya ku balas dengan senyuman kembali. Seperti semut yang sedang berjumpa, kami tak mau kalah. Salam dan cipika-cipiki kembali hadir menguatkan setiap tali ukhuwah perjuangan.

“Waah.. ganti ni motornya kak?”, tanyaku penasaran
“Nggak ah. Cuma di lapisi aja bodynya May”, jawabnya tenang.
“ooo..”, sambil ngangguk-ngagguk.
“May, tolong bawain ya. Ini nutrijel buat acara ntar. Takutnya malah banyak yang tumpah. Ni udah ada yang tumpah soalnya. Bisa kan.?”, tanyanya padaku.
“Ooo tidak bisa… Sini kak May bawa”, sambil mengayunkan tangan kearah yang perlu bantuan.

Sejurus kemudian aku udah menaiki motor kak Wita. Kemudian kami meluncur menggunakan sepeda motor mathic itu. Bismillah…….

Aku bersama satu orang seniorku ku itulah, kak Wita Sudhirahayu, berjalan (tapi naik motor. Gimana tu ya jalan tapi naik motor .????) meyusuri Perkampungan Belian di daerah Batam Centre yang letaknya tepat di belakang gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Batam yang megah menjulang. Perjalanan kami adalah sebuah aksi pelayanan kepada masyarakat yang terfokus pada pendidikan anak-anak di rumah liar. Seperti yang ku katakan di atas tadi nama kegiatan ini adalah PAL ALIF.

Selama perjalanan, terbayang oleh ku pemandangan yang kontras antara sebuah gedung dan rumah-rumah liar. Sejenak fikiran ku menjalar merasuki sudut-sudut harapan akan suatu hal yang bisa ku lakukan untuk merubah situasi dan kondisi (sikon) lingkungan saat itu. Rasanya memang terlalu tinggi asa yang tergantung ini. Tapi, dukungan dari hasrat yang menggebu-gebu dalam diri, berhasil untuk tidak mematahkan pranara itu. Apalagi mengingat rekan-rekan KAMMI yang luar biasa baik dari segi ide dan implementasi (baca: Aksi) dalam menjalankan program-program yang telah di rancang.

Untuk sampai ke lokasi kegiatan tersebut yang diadakan di Musholla Al-Hidayah, Kampung Belian depan,  kami melewati jalan tanah yang penuh bebatuan.  Ditambah pemandangan tumpukan sampah yang dikerubungi lalat-lalat, tumpukan kayu dan besi tua serta plastik-plastik yang aku fikir adalah merupakan hasil dari “mulung” oleh penduduk sekitar.

Kemudian lagi-lagi terbesit difikiranku. Beberapa rentetan pertanyaan yang sudah siap unjuk gigi di bayang-bayang lamunanku.
 “Beginikah suasana bermain anak-anak di rumah liar…?”
“Adakah senyum kecil mereka terganggu dari tingginya sampah-sampah yang berada di dekat    mereka…?”
“Bagaimana mereka belajar dengan nyaman seperti anak-anak biasa pada umumnya…?”

            Sontak, langsung saja hatiku layu. Mengingatkan aku pada diri sendiri.  Bersyukurlah wahai diri, yang diri ini masih memiliki kehidupan yang layak. ”Maka, nikmat Tuhan mu manakah yang kamu dustakan..?” (Q.S Ar-Rahman). Langsung hati ini berucap rasa syukur pada-Nya. Berdzikir menyebut kalimat indah-Nya. Alhamdulillahirabbil’alamin…Alhamdulillahirabbil’alamin…Alhamdulillah……… “May, haruskah dengan sedikit senggolan seperti ini baru engkau mau bersyukur…?”, fikirku kembali. Maka kemudian terucap kalimat istigfar dalam hati. Astagfirullahaladzim. Astagfirullahaladzim. Astagfirullahaladzim.... ”Ya  Robb. Jangan jadikan diri ini kufur terhadap nikmat-nikmat Mu Ya Robb..”

Kemudian, lagi-lagi fikiranku kembali terusik dengan pemandangan kotras tadi. Antara gedung yang kokoh dan perumahan elite di sampingnya tetapi ada pemandangan rumah liar di dekatnya. Sungguh ironis bukan…? Tak bisa ku bayangkan bagaiamana saat Khalifah Umar memimpin negerinya. Beliau enggan untuk bersantai-santai di singgasananya yang mewah. Bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyaknya. Hingga  beliau memastikan dengan mata kepala sendiri, keadaan rakyatnya di luar sana. Padahal pekerjaan itu dapat dilakukan oleh pengawal-pengawalnya yang banyak. Tapi itu bukan pilihan bagi sosok Umar.
“Ya Allah, akankah ada “umar-umar” di abad 21 ini …?” Rintih ku dalam hati.
Sejurus kemudian, akupun tersadar dari lamunan. Matahari pagi menyibak awan putih dan kemudian menyapa dengan ramah dimukaku. Pada saat itu, aktivitas penduduk sudah terlihat. Ada ibu-ibu yang sedang menjemur pakaian, seorang nenek yang membersihkan halamannya yang mungil, seorang ayah yang tengah merapikan tumpukan kayu di samping rumahnya. Kemudian mata ku tertuju pada seorang pemuda yang usianya mungkin sekitar 16 tahunan. Ada hal unik yang ku lihat darinya. Dia sedang asik membersihkan motor yang sepertinya motor itu tinggal menunggu waktu saja untuk menutup kebersamaan dengannya. Motor itu berwarna hitam, kaca spion yang sedikit retak, dan berkarat di banyak tempat di sisi-sisi motornya. Ntah mengapa dia begitu senang dengan motornya itu. Yang jelas, ku lihat wajah yang yang didalamnya terlukis sifat “legowo”, menerima apa adanya. Sepertinya ia berusaha untuk merawat benda yang bernama motor itu yang Allah titipkan padanya dengan sebaik-baiknya. Untuk kesekian kalinya, hatiku terketuk melihat keadaan disekitar pada waktu yang bersamaan.
“Ya Allah, mudah-mudahan perjalanan dan kegiatan ini full barokah”

***  
Akhirnya setelah beberapa menit perjalanan, kami sampai di Musholla Al-Hidayah. Disana terlihat beberapa rekan KAMMI yang mondar-mandir sibuk mempersiapkan acara PAL ALIF. Kami disambut seorang akhwat beranama Salina. Beliau juga seniorku. Satu rekan kerja di sosmas dengan kak Wita. Seperti biasa saat berjumpa, salam disertai jabat tangan dan pelukan erat tak lupa kami lakukan. Seperti sebuah kebiasaan.

Aku melihat dengan teliti keadaan waktu itu. Sebuah musholla sederhana berwarna dasar putih yang berdebu dan dengan list warna hijau di pilar-pilarnya, ditemani oleh rumah-rumah kayu berwarna coklat yang dibangun tersusun tidak rapi di sekelilingnya. Tak lupa beberapa pohon rindang menjadi aksesorisnya. Sungguh luar binasa biasa. Ada rasa ketenangan dalam kesederhanaan disana.

Kemudian ku langkahkan kaki ini untuk kembali membiarkan mataku berkeliaran melihat suasana di sana. Aku berjalan mendekati musholla, dan ku intip dari jendela. Waahh…. Ternyata sudah ada beberapa anak yang menunggu dengan antusias. Senangnya melihat mereka dengan wajah polos nan lucu itu. Seakan-akan tiada beban yang menghambat mereka untuk terus tumbuh mengikuti zaman yang keras ini.

Mata ku melayangkan pandang ke tempat lain. Ternyata disana ada kak Meli yang di temani dua orang muridnya. Beliau adalah seorang tenaga pendidik di SDIT Tunas Cendekia. Kuliah di UNRIKA semester empat jurusan Sastra Inggris. Tak perlu waktu lama untuk berfikir, aku langsung memasuki musholla itu dan menghampiri mereka.
“Assalamu’alaikum”, sapaku dengan salam diiringi cipika-cipiki.
“Wa’alaikumussalam”, jawab mereka serentak.
“Baik-baik aja kan May?”, Tanya nya dengan penasaran.
Dalam hati ku berfikir mungkin kak Meli tau tenteng berita duka itu.
“Mmm.. Iya kak. Alhamdulillah”, jawabku.
“Kak turut berdukacita ya dek”, ungkapnya penuh rasa belasungkawa.
“Iya kak. Jazakillah”, balasku sambil menunduk.

Tak lama kemudian, mata ku kembali mengitari suasana musholla itu. Aku memutar kebelakang. Dan ternyata ada kak Lisa. Sebaris senyum ku lihat. Tak lama ia menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Beliau juga seniorku di organisasi ini.
“Yang tabah ya May. Semoga Kakek May mendapat tempat yang baik di sisi-Nya”, ucapnya.
“Iya kak. Aamiin. Syukran ya kak.”

Benar-benar. Mereka punya perhatian yang peka. Itulah indahnya ukhuwah. Saling menguatkan.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »