BIDADARI BIDADARI KECILKU
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…
Kaifa khaluki ya ukhti fillah ? (apa kabar ukhti?)
Ma taf’al? (lagi ngapain?)

Diary Mba may:
Subhanallah. Dan lembaran-lembaran kenangan bersama adek-adek mentor hadir dibenakku.
Ukhti fillah, mujahidah da’wah, bidadari surgaku…
Sungguh mba tahu betapa indahnya perjalanan da’wah ini dengan mujahidah-mujahidah sepertimu. Saat kita menekan kontrak jual beli ini, saat itu kita telah menyiapkan diri menghadapi tuntutan dari berbagai pihak, saat itu pula kita menyiapkan diri untuk siap menanggung beban yang jauh lebih besar dari orang biasa, saat itulah kita berjanji senantiasa belajar dan berjuang untuk setegar Khodijah, secerdas Aisyah, sedermawan Zainab, setangguh Fatimah, seberani Nusaibah dan sesabar Ummu sulaim. Karena kalian ukhti mujahidah…. karena kalian bidadari surga.
Maka jangan pernah berhenti untuk terus memperbaharui diri, menjadi amanah terindah bagi da’wah ini dan bagi semua orang yang mencintaimu. Bidadari, teruslah bergerak….. Jadilah bidadari dengan sayap terindah.
Bidadari, dalam malam-malam sunyiku, mba senantiasa cemas dan takut kita tak lebih dari generasi buih di lautan. Banyak namun tidak punya kekuatan apapun. Tak punya kekuatan untuk sekedar melawan arus atau menghadang gelombang. Menjadi buih adalah menjadi bukan siapa-siapa, buih hanya akan mengikuti kemana air mengalir dan ombak menghempas. Generasi buih….., betapa sering kita tertipu dengan jumlah yang banyak. Betapa sering kita bangga dengan kuantitas. Bidadari andai kita mau berkaca, sedikit berintropeksi, berapa kali dalam satu hari ini kita sholat? Sudahkah tepat lima waktu seperti yang Allah perintahkan? Berapa kali dalam sebulan kita mengikuti mentoring? Berapa kali kita tidak memenuhi janji pada saudara kita? Berapa banyak perbuatan kita yang membawa kemaslahatan bagi umat?
Mba teringat Perang Badar Kubro, bulan Ramadhan Tahun 2 Hijriyah. Saat 319 orang mampu mengalahkan seribu orang pasukan lengkap dengan kondisi mental tidak siap untuk berperang. Namun bidadari, jumlah ternyata tak menjadi jaminan. Senandung Para Mujahid, tafsir surat Al-Anfal menggambarkan hal tersebut dengan begitu jelas ”…dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Anfal: 10). Para sahabat dapat mengetahui dengan jelas bahwa kemenangan dapat tercapai bukan karena jumlah pasukan yang banyak, persenjataan yang lengkap, dana peperangan yang melimpah, atau perbekalan yang cukup. Namun kemenangan amat ditentukan oleh faktor menyatunya hati dengan kekuatan Allah yang takkan dapat dihadapi oleh kekuatan manusia manapun. Sungguh luar biasa.
Bidadari, sudahkah kita menjadi barisan orang yang sedikit itu? Yang memiliki tsiqohbillah yang begitu dahsyat hingga mampu mengalahkan kekuatan dari manusia serta makar apapun. Ataukah kita hanya puas duduk dibangku penonton, melihat saudara kita berjuang, sedikit peduli atau sama sekali tidak mau peduli? Ataukah kita hanya disibukkan dengan akademis kita, mengorbankan saudara-saudara kita untuk memegang amanah berlipat ganda di pundaknya karena distribusi amanah yang tidak merata? Ah, bidadari ternyata betapa sering kita dzalim pada saudara kita… Pernahkah kita bertanya, “Adakah yang bisa saya bantu ukhti?” Atau mungkin kita yang sering kali mengecewakannya karena SMS ta’limatnya seringkali tak ubah angin lalu. Bidadari, katanya kita aktivis, tapi………….. Entahlah, kemana engkau pergi?
Bidadari, mba faham tak mungkin menyalahkan siapapun, karena kesalahan bisa muncul dari sudut mana saja dari para praktisi dakwah. Namun menjadikannya sebuah keluh pun takkan menjadi satu kebaikan yang dapat menjadi solusi. Mba hanya ingin berbagi denganmu, saat berhadapan dengan kenyataan, bahwa dari  ± 110 jumlah anggota ROHIS SMART kita, hanya se-per limanya saja yang punya militansi dan amal nyata di medan jihad. Akan mba biarkan artikel ini sampai pada titik introspeksi kita. Kemanakah kita pergi bidadari? Jangan-jangan kita merasa sudah kemana-mana, padahal belum selangkah pun kita beranjak dari tempat kita. Ukhti, sungguh ironis bila saudara kita yang memikul beban amanah begitu besar akhirnya lepas dari barisan karena tak sanggup lagi menanggungnya. Kita semua akan dimintai pertanggungjawaban atas dirinya, kemana kita saat saudara kita membutuhkan bantuan kita? Kemana kita saat akademis saudara kita merosot karena beban dakwah yang dipikulnya? Kemana kita saat keputusan qiyadah untuk menempatkan orang-orang soleh di kepemimpinan harus diperjuangkan? Kemana kita, yang kerap bangga dengan label aktivis kita, namun dengan kontribusi yang teramat minim? Ya ukhti, kemanakah kita akan melangkah jika tidak di jalan-Nya? Kemanakah kita akan berjuang, jika tidak di medan jihad-Nya?
Bidadari, sungguh kekuatanmu lebih besar dari yang kau pikirkan. Namun sekali-kali bukan dakwah ini yang membutuhkan kita, tapi kita yang membutuhkan dakwah. Kereta dakwah ini akan terus melaju dengan atau tanpa kita. Dien (agama) ini, dakwah ini, bukan waktu sisa kita. Tapi justru kehidupan kita…
Bidadari, semoga saja waktu kita yang sedikit itu dapat menjadi kifarat bagi kita. Menjadi berkah dan kemaslahatan bagi umat ini. Sungguh mba berharap bisa bersamamu mencari solusi atas semua kondisi klasik ini. Berjuang bersamamu adalah keindahan dan kebahagiaan tersendiri. Bidadari, tanpamu 100 tak lagi seratus, tapi hanya 99 saja. Tanpamu, bagaikan tuts keyboard yang rusak di salah satu hurufnya. Kehadiranmu menjadi sangat penting, andai kau paham visi perjuangan ini.

BIDADARI-BIDADARIKU
Dan mba kemudian tersenyum. Bidadari, saat mba menulis artikel ini mba bukan sedang mengeluh atau merasa jenuh. Mba justru ingin berterimakasih pada kalian. Perjalanan waktu dan dakwah ini mengajarkan pada mba, ta’liful qulub bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Tapi ia harus ditumbuhkan dan dirawat layaknya merawat bunga dan tumbuhan dengan segala keindahannya. Cinta takkan hadir dengan selalu menuntut, tapi kan muncul dalam kalbu kala kita senantiasa belajar untuk memberi.
Dan mba kembali bertafakur. “Bintang di ujung sana mengingatkan mba akan seorang Hamas (penyemangat), kerlipnya begitu ceria. Terkadang bergerak-gerak mempesona. Kaplingmu di ujung tenggara, kau selalu punya satu ruang istimewa di langit sana”.
Dan kini mba menghadapinya dengan senyuman terbaik yang mba punya. Mba bersyukur akan tsiqoh (percaya/yakin) mu adik-adikku dengan berbagi rasa dan kesempatan beramal dengan mba, semoga menjadi keberkahan. Maka takkan mba siakan, karena cinta dan ta’liful qulub adalah rangkaian memberi yang tanpa batas. Bukankah Muhajirin dan Anshar mengajarkan kita akan hal itu? Tentang itsar, tentang ikatan aqidah yang melebihi ikatan persaudaraan satu darah.
Oiya, mba punya sedikit pesan buat adek-adek mba. Mari kita bersama mengurai, apa contoh sederhana yang bisa kita lakukan sehari-hari sebagai bukti mencintai sesuatu bagi saudara kita yang juga kita cintai bagi diri kita…

-Mengucapkan Salam dan Menjawab Salam Ketika Bertemu
“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Tidak maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai: Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Muslim)
Pada hakekatnya ucapan salam merupakan do’a dari seseorang bagi orang lain. Di dalam lafadz salam “Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh” terdapat wujud kecintaan seorang muslim pada muslim yang lain. Yaitu keinginannya agar orang yang disapanya dengan salam, bisa memperoleh keselamatan, rahmat, dan barokah. Barokah artinya tetapnya suatu kebaikan dan bertambah banyaknya dia. Tentunya seseorang senang bila ada orang yang mendo’akan keselamatan, rahmat, dan barokah bagi dirinya. Semoga Allah mengabulkan do’a tersebut.
Saudariku fillah, bayangkanlah! Betapa banyak kebahagiaan yang kita bagikan kepada saudara kita sesama muslim bila setiap bertemu dengan muslimah lain –baik  yang  kita kenal maupun tidak kita kenal- kita senantiasa menyapa mereka dengan salam. Bukankah kita pun ingin bila kita memperoleh banyak do’a yang demikian?! Maka, bila di jalan kita bertemu dengan muslimah yang tidak kita kenal namun dia berkerudung dan kita yakin bahwa kerudung itu adalah ciri bahwa dia adalah seorang muslimah, ucapkanlah salam kepadanya. Semoga dengan hal sederhana ini, kita bisa menyebar kecintaan kepada sesama saudara muslimah. Insya Allah…

-Bertutur Kata yang Menyenangkan dan Bermanfaat
Dalam sehari bisa kita hitung berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk sekedar berkumpul-kumpul dan ngobrol dengan teman. Seringkali obrolan kita mengarah kepada ghibah/menggunjing/bergosip. Betapa meruginya kita. Seandainya, waktu ngobrol tersebut kita gunakan untuk membicarakan hal-hal yang setidaknya lebih bermanfaat, tentunya kita tidak akan menyesal.

Saudariku fillah, berbaik sangkalah kepada saudari muslimah mu yang lain bila dia menasehati mu, memberimu tulisan-tulisan tentang ilmu agama, atau mengajakmu mengikuti kajian. Berbaik sangkalah bahwa dia sangat menginginkan kebaikan bagimu. Sebagaimana dia pun menginginkan yang demikian bagi dirinya. Karena, siapakah gerangan orang yang senang terjerumus pada kubangan kesalahan dan tidak ada yang mengulurkan tangan padanya untuk menariknya dari kubangan yang kotor itu? Tentunya kita akan bersedih bila kita terjatuh di lubang yang kotor dan orang-orang di sekeliling kita hanya melihat tanpa menolong kita…
Tidak ada ruginya bila kita banyak mengutamakan saudara kita. Selama kita berusaha ikhlas, balasan terbaik di sisi Allah Ta’ala menanti kita. Janganlah risau karena bisikan-bisikan yang mengajak kita untuk “ingin menang sendiri, ingin terkenal sendiri”. Wahai saudariku fillah, manusia akan mati! Semua makhluk Allah akan mati dan kembali kepada Allah!! Sedangkan Allah adalah Dzat Yang Maha Kekal. Maka, melakukan sesuatu untuk Dzat Yang Maha Kekal tentunya lebih utama dibandingkan melakukan sesuatu sekedar untuk dipuji manusia. Bukankah demikian?

Janji Allah Ta’Ala Pasti Benar ………..!
Saudariku muslimah -semoga Allah senantiasa menjaga kita diatas kebenaran-, ketahuilah! Orang-orang yang saling mencintai karena Allah akan mendapatkan kemuliaan di Akhirat.
Allah Ta’ala menyediakan bagi kita lahan pahala yang begitu banyak. Allah Ta’ala menyediakannya secara cuma-cuma bagi kita. Ternyata, begitu sederhana cara untuk mendapat pahala. Dan begitu mudahnya mengamalkan ajaran Islam bagi orang-orang yang meyakini bahwa esok dia akan bertemu dengan Allah Rabbul ‘alamin sembari melihat segala perbuatan baik maupun buruk yang telah dia lakukan selama hidup di dunia. Persiapkanlah bekal terbaik kita menuju Negeri Akhirat. Semoga Allah mengumpulkan kita dan orang-orang yang kita cintai karena Allah di Surga Firdaus Al-A’laa bersama para Nabi, syuhada’, shiddiqin, dan shalihin. Itulah akhir kehidupan yang paling indah…
Untuk ikhwah fillah yang terpilih mendapat nikmat ujian, apapun itu, bangkitlah, janganlah terlarut dalam kesedihan. Jadilah penyejuk hati, jadilah penghibur jiwa, jadilah amanah terindah yang pernah dimiliki oleh dakwah ini, keluarga kita, ayah ibu kita.
Sungguh andai kita bersabar, ini kan jadi ladang bagi kita memahami makna kesabaran tanpa batas. Selaksa doa Azzam untukmu, semoga Allah kuatkanmu dan istiqomahkanmu di jalan-Nya. Yakinlah, percayalah, bahwa janji Allah adalah benar
*****
. Uhibbukum ki fillah y ukhti .
J
AS - SYIFA’
Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »