2 Juni (Dirimu Dalam Nadiku)

shobakhussurur...
:)
selamat pagi dunia...!

Pagi ini sama seperti pagi yang lainnya, setelah sholat subuh, aku langsung menggrogoti laptopku yang terletak di atas meja abu-abu itu untuk menyelesaikan sebuah project.
Project menulis.
Peroject yang tak kan pernah selesai ku kerjakan.
Sebab, telah ku azammkan bagi hobi baru ku itu untuk tetap menjadi bagian dari diriku dalam menoreh sejarah dan rangkaian kisah klasik kehidupan. Baik kehidupan pribadiku, organisasiku, negaraku, atau bahkan dunia.
Ya. Menulis adalah salah satu hobi baruku saat ini.
Ibarat software yang akan di install ke komputer, hobi menulis ini baru saja terinstall di diriku.

Tulisan yang satu ini...



***
Suatu hari tanggal 2 juni sembilan belas tahun silam, telah lahir seorang putri bernama MBP.
Lahir dari rahim ibu yang hebat.
Beliau tangguh, kuat, dan sabar serta berjuang sekuat tenaga demi anak yang di kandungnya.
Antara hidup dan mati. Tak satu pun keluh terucap dari bibirnya. Hal yang sungguh luar biasa.

Senyum yang ia beri...
Dari awal kehadiranku hingga saat ini.
Walaupun saat itu tak dapat ku pandang wajahnya, namun hati ini senantiasa merasa sentuhan indah dari senyum manisnya.

Saat tumbuh-kembang ku, ia slalu hadir menemani.
Dalam hari-hari ku, canda-tawa ku.
Bahkan, saat terjatuh, sakit, alpa, dan semua tindakan bodohku, ibu tetap di samping dan membimbingku.
Selalu senyum yang ia tebar ...
:)

Senyuman itu tak lepas ia tabur saat ku mulai beranjak dewasa.
Senyum tulus seorang ibu.
Yang tak pernah terbesit untuk meminta sedikitpun balas dari anaknya.
Bagiku, dia adalah bidadari dunia dan akhirat ku.
Kau tau? Ibu ku adalah wanita luar biasa.
Ia bahkan tegar dan memberikan lukisan indah pada wajahnya atas nikmat ujian yang di bebankan ke padanya, tetap tersenyum kala angin topan kehidupan menghampiri.
"Aku tak habis fikir. Mengapa ia dapat melakukannya. Apakah ia tak punya rasa takut? Atau tak memiliki rasa kecewa? Atau malah diriku yang terlalu berlebihan menafsirkannya...?"
Begitulah terkadang muncul pertanyaan retorik dalam benakku.

Ya.. Darinya-lah aku banyak belajar pelajaran kehidupan.
Walaupun jarang aku mendapat teori ikhlas darinya, tapi yang diperlihatkan dan diajarkannya lebih dari sekedar pendeskripsian ikhlas itu sendiri.
Luar biasa bukan..?

....
Ibu, tak usahlah lagi bekerja.
Biar aku saja yang menggantikan tenagamu.
Aku tau ibu, walau hanya senyum yang kau perlihatkan padaku, walau kau berdalih masih tetap kuat untuk bekerja, tetap saja ibu, tenagamu akan terkuras seiring dengan berlalunya waktu.
Aku takkan siakan kehadiranmu ibu.
Aku ingin bahagiakanmu.
Dari hal-hal yang kecil, yang kau sukai.
Takkan mau aku menunggu waktu yang tepat untuk membahagiakan mu ibu.
Jika saja aku menunggu waktu yang tepat itu dan ternyata aku yang terlebih dahulu menjumpai Rabb, maka pastinya aku akan menyesal ibu.
Sungguh, aku tak mau penyesalan itu.
Biarlah walaupun aku sekedar memijat pundakmu yang lelah,
biarlah jika aku hanya dapat memberikan semangatku dalam menuntut ilmu,
biarlah bila sedikit gurauan kecil ku merekahkan tawa lepasmu...
dan.. hal-hal kecil yang bagi orang lain itu biasa namun akan tetap ku perhatikuan untukmu ibu...
:)
 ...

Tak mampu ku rangkai bait doa yang terindah atas apa yang telah Allah berikan padaku melalui ibu.
Bibir ku selalu kelu, biarlah airmata ini menjadi saksi bisu atas cintaku padanya.
Tapi.. Tetap saja aku mempunyai cita-cita.
Cita-cita bersama ibu (bidadari dunia akhiratku), ayah, dan adik ku serta saudara saudari yang kucintai untuk bertemu lagi di rumah megah, di Jannah Nya yang indah.
KADO terindah yang ku panjatkan pada Nya.
Aamiin.


Aku cinta ibu.. cinta ibu.. cinta ibu.
Begitu pula ayahku.
Ibu... Ayah... Dirimu dalam nadiku.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »