PEMUDA DAN KEMAJUAN DAERAH



1 Latar Belakang
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan menyebutkan dalam Pasal 1 poin 1, Pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun.
 Jika kita lihat data yang disajikan dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa di tahun 2007 sampai pada tahun 2011 perkembangan pemuda di Indonesia (tingkat SMA, Diploma, Universitas) bergerak stabil pada angka 9 juta jiwa, ini mengindikasikan Indonesia memiliki aset yang tinggi dalam hal sumber daya manusia yang notabenenya juga merupakan usia produktif.
Seiring dengan peningkatan jumlah pemuda tersebut, tentunya ada variable lain yang secara eksplisit tak luput untuk dinanti-nantikan kehadirannya. Variabel itu adalah “peran pemuda”. Sudah jelas, bahwa pemuda identik dan cenderung memiliki segudang ide cemerlang, semangat yang menggelora, ideologi yang mantap, pemberani, tenaga kuat, keinginan menyala-nyala dan pemikiran tiada bataslah yang membuat mereka selalu dijadikan harapan dan tumpuan kebanggaan bangsa. Sebab, dari merekalah nantinya muncul berbagai aktor yang memainkan peran penting dalam sebuah perjalanan sejarah bangsa.

Perjalanan sejarah bangsa yang diimpikan ini akan timbul sebagai prestasi jika individu yang termaktub di dalamnya memahami hakikat diri bangsa. Untuk itu, pemuda sebagai salah satu anggota individu dalam suatu bangsa memiliki tugas yang besar. Sebelum mencapai prestasi yang besar tersebut, tentunya kita (baca: pemuda) harus mencapai prestasi-perstasi dalam lingkup kecil terlebih dahulu. Yaitu menapaki anak-anak tangga yang mengantarkan kita pada tujuan atau prestasi yang akan kita raih nantinya. Tidak usah terlalu jauh berbicara Negara. Kita mulai dari daerah. Tempat yang kita diami saat ini. Sudahkah kita berkontribusi didalamnya? Sudahkan peran pemuda terasa dalam lingkungan masyaraka setempat? Ini akan menjadi sebuah pertanyaan besar tentang peran pemuda.

2Rumusan Masalah
Hal-hal yang akan diuraikan dalam makalah ini berkaitan dan hanya seputar tentang peran serta pemuda dalam memajukan budaya daerah.

3Tujuan
            Untuk menggali potensi pemuda yang hilang, sehingga diharapkan pemikiran pemuda akan mulai terbuka kembali dan tak lupa juga untuk mengembalikan atau mengingatkan bahwa dahulu semangat pemudalah yang selalu bergema.

4Isi
Diperlukan adanya pergeseran konsep tentang pemuda. Berbicara tentang pemuda tidak hanya pada tatanan politik, kekuasaan, hukum, dan kekuatan saja. Tidak hanya berbicara tentang karya-karya monumental yang bila kita cari ceritanya pemudalah yang sedikit banyaknya mempengaruhi perjuangan sejarah negara ini. Dimana dalam setiap alur cerita tersebut pemuda memiliki intensitas besar sebagai sebuah nama yang sering disebut-sebut dengan pelopor.
Penjelasan seperti ini tidaklah salah. Tetapi hanya saja kurang lengkap penilaiannya. Jauh dari itu, kata “peran pemuda” mempunyai banyak tolak ukur untuk menilainya. Termasuk bagaimana pemuda dapat menyentuh persoalaan pribadi, masyarakat, negara bahkan dunia secara langsung dalam seluruh aspek kehidupan. Seperti masalah tentang budaya daerah.
Pemuda seharusnya sudah fasih jika diajak berbicara mengenai budayanya. Tetapi, fenomena saat ini adalah budaya daerah justru semakin terkikis seiring dengan bertambahnya jumlah pemuda. Budaya daerah semakin lama semakin pudar termakan zaman. Dan semakin hilang dari pribadi seorang pemuda. Mereka terlalu bangga akan budaya orang lain dan lupa dengan hakikat serta jati dirinya. Lupa bagaimana ia beradab dengan orang lain baik itu sesama, lebih muda, atau lebih tua darinya. Lupa dengan tata karma kehidupan. Tak mengerti tentang apa dan bagaimana seharusnya ia bertindak sebagai anggota dari bangsa ketimuran yang dienal dengan ramah tamah dan sopan santunnya. 
Sehingga tidak heran jika banyak budaya daerah kita yang hilang dipungut orang lain. Sebab yang memiliki budaya tersebut sudah tak acuh dengannya. Disaat begitu banyak asset budaya kita diambil orang lain, kita hanya bisa berbicara, memaki, mengeluh tak berkesudahan. Tidak ada tindak nyata. Maka tidak salah jika banyak bangsa lain membicarakan tentang ketahanan budaya kita.
Permasalahan ini juga termasuk dari permasalah yang membutuhkan tenaga pemuda itu sendiri. Disinilah salah satu lapak yang memerlukan kehadiran pemuda. Yaitu peran dimana pemuda dapat memajukan daerahnya. Bukan justru memperpuruk atau mencoreng budayanya sendiri.
Selanjutnya, jika kita berbicara tentang kepemudaan. Maka akan banyak hal yang dapat kita uraikankan darinya. Karena kepemudaan sejatinya terkait dengan potensi, tanggung jawab, hak, karakter, kapasitas, aktualisasi diri, dan cita-cita pemuda (UU No. 40 Tahun 2009).
Untuk itu, dari individu pemuda ini lah yang harus di bentuk seperti apa sebenarnya pemuda sejati yang dibutuhkan. Anis Matta dalam bukunya Dari Gerakan Ke Negara menyebutkan bahwa “…secara structural, unit terkecil yang ada dalam masyarakat manusia adalah individu. Itulah sebabnya perubahan social harus dimulai dari sana: membangun ulang susunan kepribadian individu, mulai dari cara berfikir hingga cara berprilaku. Setelah itu, individu-individu itu harus dihubungkan satu sama lain dalam suatu system jaringan yang baru, dengan dasar ikatan kebersamaan yang baru, identitas kolektif yang baru, system distribusi social ekonomi yang juga baru…”
Membangun perubahan tak akan berarti jika akar dari pelaksana perubahan tak kunjung berubah untuk menjadi baik. Jika pemuda sudah mantap, maka plan perubahan dengan mudah berjalan. Dengan kekuatan pemuda di masing-masing daerah dan keikutsertaan pemuda dalam memajukan budaya daerah, diharapkan tidak ada lagi yang namanya kehilangan budaya. Kepeloporan pemuda di masa lalu dapat di tingkatkan dan di sesuaikan dalam memberi kontribusi dari kemampuan terbaik yang mereka punya pada zaman sekarang ini. Misalnya dengan memahami satu atau lebih disiplin ilmu. Diharapkan pada akhirnya pemuda tersebut dapat bersumbangsih dengan ilmu yang dimilinya. Jika ia ahli Ekonomi, diharapkan ia dapat mampu menerapkan praktek syariah dalam bermuamalah di masyarakat. Dan begitu juga dengan disiplin ilmu lainnya.
Setidaknya ada dua rahasia besar untuk pemuda dalam melakukan tugasnya. Rahasia besar itu adalah Al-Quran dan Hadis. Panduan yang mengantarkan pemuda untuk membentuk sifat-sifat unggul. Jika sifat unggul tersebut tertanam dalam diri pemuda bukan tidak mungkin mata dunia beralih kepada pemuda negri ini. Telah Allah tuangkan panduan-panduan hidup sepanjang zaman (manhajjul hayah) dalam Qalam cinta Nya.
Allah ta’ala berfirman: “….. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta” (Q.S Thaha: 123, 124).

5Kesimpulan
Kesimpulannya adalah karakter pemuda yang tertimbun lama dalam diri pribadi seorang pemuda harus di bangkitkan. Pemuda sudah harus bangun dari lelapnya kehidupan glamour yang ditawarkan bangsa lain. Jati diri yang terkunci rapat, harus segera dibuka. Untuk itu, pemuda harus mengenal siapa dirinya. Harus mengetahui hakikat ia hidup di dunia. Agar timbul karakter unggul dalam diri pemuda. Untuk itulah diperlukan sebuah kefahaman. Setelah lahir kefahaman dalam diri pemuda, maka akan muncul sikap bekerja secara loyal. Tentunya berdampak pada kerja-kerja pemuda dalam memajukan budaya daerahnya.
Untuk mewujudkan hal ini, tentunya diperlukan kesadaran pada diri pemuda itu sendiri. Kesadaran untuk mengembangkan diri. Kesadaran untuk mengentaskan permasalah-permasalahan yang terjadi dalam hidup dan kehidupannya dengan cara berfikir kritis dan bertindak praktis.
Sehingga pada akhirnya, diharapkan dari semangat pemuda dahulu bukan hanya sebuah cerita belaka, atau dongeng pengantar pada pelajaran sejarah di bangku sekolah. Lebih dari itu. Semangat perjuangan pemuda masih harus terus mengalir deras dalam nadi pemuda-pemuda saat ini. Masih bergulir cerita semangat pemuda yang membara, yang membakar semangat diri bagi siapa saja yang mendengarkannya. Khususnya dalam mengembangkan dan memajukan daerahnya.

6Daftar Pustaka
Undang-Undang Republik Indonesia Pasal 1 Nomor 40 Tahun 2009 Tentang             Kepemudaan.

Matta, H. M. Anis. 2006. Dari Gerakan ke Negara.
            Jakarta: Fitrah Rabbani


Q.S Thaha 123-124

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »