Oh MYOB....



Malam kamis ini aku mengikuti ujian UAS semester pendek di kampus. Ujian MYOB, salah satu program akuntansi yang terpopuler digunakan oleh perusahaan-perusahaan.
Secepatnya aku menggerakkan tangan ini untuk menekan tombol display demi melihat hasil dari perhitungan ku yang cemas-cemas tak menentu. Perasaan ku tiba-tiba berbeda seketika. Saat ku tanyakan pada Wati temanku, mengenai net profit nya ternyata jawaban kami berbeda. Seketika hati ini berdebar. Ditambah lagi teman di sebelah Wati yang di menyetujui jawaban Wati yang sama dengannya.

Coeess.. Mata yang sudah terlanjur panas ini tak dapat ku tahan. Bulir air mata jatuh seketika membasahi pipi. Cepat-cepat ku palingkan wajah ku ke computer yang berada tepat di hadapan ku, berharap mereka tidak melihat bahwa aku sedang maratapi net profit yang diam tak berkutik di hadapan ku itu.
Aku salah dimana? Yang mana yang harus ku perbaiki? Apa aku salah memasukkan angka? Gimana nih…? Buat laporannya kan bukan satu atau dua biji.
Yah. Begitulah akuntansi. Sekali nggak balance, gak sama, gak sesuai, atau apapun itu yang berhubungan dengan kata-kata bermakna negative, sudahlah. Alamatlah kapal akan tenggelam. Tindakan yang paling tepat adalah mengulangnya dari awal. Tapi langkah itu jauh lebih berbahaya dibanding aku meneruskan pekerjaanku. Apa jadinya jika aku mengulang dari awal dan berusaha berhati-hati untuk setiap transaksinya kalau toh aku tak dapat menyelesaikannya sampai akhir. Setidaknya aku akan mendapat nilai dari report lain yang bisa sedikit membantu.

Kulihat teman-teman yang lain mulai pergi meninggalkan ruangan satu persatu dengan muka yang cerah ceria. Seperti menerima besiswa full kuliah. Berusaha untuk tetap focus. Tapi ternyata tak dapat kulawan musuh terbesarku itu. Justru aku semakin menangis.
Aku teruskan dengan energi sisa yang kupunya. Tak berharap nilai ini akan menjadi 90 ataupun setidaknya 80. Luluspun berita bagus rasanya.

Singkat cerita, setelah semua permintaan dari pertanyaan ujian MYOb telah ku penuhi, aku segera mengambil handphone dari saku gamis dan segera mengirim pesan singkat untuk ayah agar dengan cepat dapat menjemputku di kampus. Entah mengapa saat itu, mata ku tak henti-hentinya memproduksi air yang karenanya muka dan hidungku terlihat merah. Dengan segenap hati ku usap air mata itu. Berusaha tegar untuk sementara. Aku tak mau terlihat “cengeng” di depan orang lain. Apa lagi di depan asdos. Gak banget rasanya.

Masih betah duduk di kursi panas, aku berdiam sejenak. Kulihat sang asdos hilir mudik mengambil data dari setiap computer yang sudah selesai dikerjakan peserta ujian. Saat pandangan mata kami bertemu, sang asdos segera meninggalkan pekerjaannya dan menghampiriku.
“Udah siap kah ?”
Secepat kilat butiran air mata ini jatuh kembali.
“Kenapa May ?”
“Pppunyaa May gak sesuai ce sama temen yang lain.”
“Udah May. Belum tentu mereka bener.” Sambil mengelus pundakku.
Wah, tambah terfasilitasi alasan ku untuk meningkatkan produksi air mata. Aku hanya bisa tertunduk dan izin untuk keluar dengan suara yang sedikit parau.

Di luar kelas suasana sudah sunyi. Rata-rata ruangan sudah gelap. Hanya laboratorium kamputer tempat aku melakukan ujian  saja yang masih terang benderang. Tiba-tiba, aku menangis tersedu. Meluap bagai banjir bandang yang baru saja terjadi beberapa waktu lalu di Padang.

Kali ini mataku panas kuadrat. Benar-benar merah. Kepalaku berat sekali rasanya. Dengan langkah lemas kulewati lorong lantai dua itu. Kemudian menuruni tangga sehingga aku sampai pada lantai satu. Ku percepat langkah untuk ke halte di gerbang depan kampus. Takut kalau ayah sudah menunggu disana.

Biasanya jarak tempuh ku antara kampus dengan gerbangnya membutuhkan waktu tiga menit. Tapi kali ini, dengan sekejap mata aku sudah berada di halte tempat biasa aku menunggu ayah.
Walaupun kampus sudah sepi dari pengungjungnya, jalanan depan kampus tetap ramai lalu lalang kendaraan. Di halte biru dan ditemani lampu penerang jalan yang temaram, aku menunggu ayah. Untuk kesekian kalinya aktivitas produksi air mata hari ini berjalan tanpa SOP. Mengenang apa yang baru saja menimpa diriku.

Teringat bahwa tugas ku sebagai calon kestari masih membayang di benakku. Belum dilantik sudah begini sibukknya. Mengurus ini dan itu. Padahal aku sama sekali belum menemui sang kestari lama untuk belajar pengadministrasian, bahkan sekedar sharing pun belum terlaksana. Tiba-tiba aku diminta untuk membuat surat-surat yang formatnya belum ku punya. Menghubungi melalui telepon lah alternative terakhir jika tak sempat bertemu. Tetapi ternyata saat itu pun belum Tak kunjung aku beristirahat pada minggu itu.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »