Bahasa Cinta Dimatamu



Kau mungkin tak akan tahu. Bahwa wanita yang selama ini ku benci adalah orang yang seharusnya paling ku sayangi. Orang yang pada dirinya tak pernah sedikitpun aku menaruh perhatian. Dia adalah ibu. Ibu bisu dan kedua tangannya tidak normal. Ibu cacat sejak ia dilahirkan. Aku benci dia. Bahkan sekedar untuk berpamitan saat pergi ke sekolah pun aku tak pernah. Bagaimana tidak. Ibu yang seharusnya dapat menjadi tempat curahan hatiku, yang semestinya dapat menasehati ku layaknya ibu normal menasehati anaknya, yang seharusnya dapat memelukku dengan belaiannya, yang semestinya dapat menjadikan ku putri yang selalu diperhatikan layaknya putri dalam cerita bidadari kahyangan. Yang, yang segalanya. Tapi… Tapi apa. Sedikitpun tak pernah ku rasakan. Sedikitpun.

Disekolah saja aku selalu mendapat cemoohan dari teman-teman ku. Mereka bilang, aku anak yang tidak beruntung. Sampai-sampai mereka mengatakan mengapa aku tidak cacat saja seperti ibu ku. Ya Tuhaaan… Mengapa aku dilahirkan dari rahim seorang wanita yang cacat.
Belum lagi keadaan kami yang sangat jauh dari kata “sederhana”. Ya. Kehidupan yang memperihatinkan. Ya, setidaknya kami tidak tinggal di kolong jembatan. Kami menyewa sebuah kamar di ujung jalan tak jauh dari sekolahanku, SMA Negeri Bina Bangsa. Ukuran kamar kami sangat kecil dan semakin terlihat sempit dengan tumpukan barang-barang lusuh milik kami. Sedikit sarang laba-laba menghiasi suasana di setiap sudut kamar.
Masih bisa bertahan hidup dengan keadaan sedikit terjamin sampai saat ini tak lain adalah kebaikan dari ibu kos yang dengan murah hati memberi pekerjaan kepada ibu. Yaitu menjajakan kue buatan ibu kos kami ke Pasar Cileduk yang jaraknya kurang lebih 1 kilometer, tak jauh dari tempat kos kami. Tak hanya itu ibu kos juga memberikan keringanan biaya penyewaan kamar kami. Lebih dari tujuh puluh persen dia memotong biaya sewa yang seharusnya kami bayar setiap bulannya. Sehingga uang jualan ibu yang seharusnya di gunakan untuk membayar uang kos, dapat selalu di tabung untuk keperluan kami sehari-hari dan keperluan sekolahku. Walaupun tidak dalam jumlah yang besar.
Untuk uang sangu ku tiap hari tidak tetap. Kalau ibu banyak rezeki, ibu menyiapkan uang tiga ribu rupiah di atas meja makan untukku. Kadang hanya seribu rupiah. Tapi yang paling sering adalah aku tak menerima uang jajan. Itu mungkin karna hanya ibu sendiri yang mencari nafkah. Dan berapalah untungnya yang dapat diperoleh ibu dengan hanya menjajakan kue-kue basah di pasar.
Sedangkan ayah sudah meninggal saat aku masih kecil. Aku mengetahui hal itu dari salah seorang tetangga sebelah kamar kami. Bibi Yati namanya. Sehari-hari bekerja sebagai tukang cuci dari rumah kerumah. Ia hidup sebatang kara dan sampai sekarang belum menikah. Dialah orang yang paling ku kenal sejak aku kecil. Dari dialah aku mengetahui sepenggal kisah masa laluku. Suatu hari dia pernah bercerita kepadaku tentang ayah. 13 tahun silam, saat aku berumur lima tahun,  ayah adalah seorang buruh bangunan. Ayah dikenal dengan kegigihannya dalam bekerja. Tak pernah mengeluh. Bahkan tidak pernah protes bila upah yang diberikan kepadanya tidak memenuhi standar upah yang seharusnya. Maka tak heran jika ayah sering diajak untuk ikut mengerjakan proyek pembangunan gedung-gedung tinggi. Pada saat ayah sedang bekerja, ia mengalami kecelakaan. Jatuh dari lantai ke-sebelas sebuah gedung. Di karenakan alat pengaman yang ayah gunakan sudah tidak layak untuk di pakai lagi. Ayah meninggal diperjalanan saat menuju ke rumah sakit, karena kehabisan darah yang cukup banyak. Sejak saat itu ibuku lah yang beralih menjadi kepala keluarga. Dan mulai saat itu ibu bekerja. Bekerja di pasar dengan menjajakan kue-kue basah buatan ibu kos.
Itu semua membuatku malu. Aku malu dengan apa yang ada pada diriku. Aku malu dengan kondisi fisik ibu yang tak sempurna. Aku sedih karna berada pada keluarga yang tak utuh. Aku kecewa dengan nasib ku yang tak secerah mentari. Aku tak bisa menantang dunia dengan keadaan terpuruk seperti ini. Sungguh. Duniaku terasa gelap. Ini sangat tidak adil. Tidak ada rasa bahagia dalam hari-hariku. Semakin aku tumbuh dewasa, semakin pula aku merasa  terombang-ambing. Mungkin bisa saja aku menjadi gila. Sebab, batinku selalu tertekan dengan kenyataan itu. Hal sederhana yang paling menyakitkan bagiku adalah tiada tempat untuk ku bercerita. Ibu? Sudah ku katakan. Aku benci dengannya.
***
Waktu menunjukkan pukul 04:00. Seperti biasa ibu sudah bangun. Yang ibu lakukan adalah membersihkan rumah, menyelesaikan segala sesatu yang belum siap dikerjakan, dan tak lupa membuatkan sarapan untukku. Kemudian ibu bersiap-siap untuk pergi ke pasar setelah sholat subuh.  Sebelumnya ibu mampir kerumah ibu kos yang letaknya tak jauh dari kos-kosan kami untuk mengambil kue.
Semua pekerjaan itu di lakukan ibu dengan menggunakan kaki nya. Termasuk dalam membuat kan sarapan untukku. Aku sugguh jijik harus bercengkrama dengan kenyataan pahit ini. Bayangkan saja, kau memakan makanan buatan ibu mu sendiri tapi makanan itu dibuat tidak dengan cara yang normal. Alias tidak menggunakan tangan, melainkan menggunakan kaki. Ah… Mau tak mau, belajar memasak adalah pilihanku. Tapi, memasak makanan untuk diriku sendiri tidak berlangsung lama. Karena aku lebih sering mendapati masakan yang gagal bahkan tak layak untuk dimakan binatang piaraan sekalipun. Sebab, aku mengerjakannya tidak dari hati. Selain aku memang tidak bisa dan tidak menyukai pekerjaan memasak. Ku akui masakan ibu jauh lebih enak dari pada masakan ku. Bahkan tak kalah dari masakan Warung Cita Rasa yang sangat terkenal di seantero kota kami yang letaknya di pinggir jalan besar sebrang perumahan elite Bunga Raya. Sampai pada akhirnya aku menyerah untuk kembali menikmati masakan ibu.
Pada saat di pasar, ibu hanya berdiri di dekat meja jualannya. Jika ada orang yang ingin membeli kue ibu, mereka mengambil kue sendiri dan memberi uang pas kepada ibu. Kalau pun ada kembaliaan uang, mereka akan mengambil sendiri di kotak uang yang ada di dekat ibu. Biasanya ibu memberi kode terlebih dahulu untuk mempersilakan mereka mengambil uang kembaliannya.
Sedangkan aku di rumah sibuk dengan menyiapakan diri untuk pergi kesekolah. Bangun pagi kemudian mandi. Setelah itu sarapan dan langsung berangkat sekolah. Aku selalu berangkat pukul 06.30. Padahal kegiatan sekolah di mulai jam 07.00. Dan jarak rumah ke sekolah pun tak jauh. Seharusnya aku dapat membantu ibu sebentar di pasar. Tapi itu tidak ku lakukan. Aku tak pernah mau tahu dengan urusan ibu dan pekerjaannya. Aku masih tidak bisa menerimanya. Dan entah sampai kapan aku tetap untuk tidak menerima kehadirannya.
Ketika aku sampai di sekolah, suasana sekolah masi sepi. Hanya ada satu dua orang penjaga sekolah yang berkeliling untuk membuka setiap ruangan kelas yang dikunci.  Saat di sekolah aku memiliki kebiasaan untuk membaca berbagai buku di perpustakaan yang berada di dekat ruang kelasku. Ini adalah kebiasaaan baruku sejak 6 bulan lalu. Semua buku ku baca. Sedikit banyaknya aku mengetahui tentang budaya, tentang wawasan nusantara, keorganisasian, sedikit ilmu hukum dan beberapa berita terbaru sepanjang tahun itu.
Hobi baru ternyata membawaku pada perubahan yang lebih baik untuk ku disekolah. Saat tahun pertama dulu, aku terkenal dengan siswa yang sangat bebal. Pelajaran sangat sulit ku serap. Nilai ujianku tak pernah indah. Selalu melayang-layang. Memenuhi standar saja sudah cukup bagiku. Sehingga wajar jika banyak teman-temanku yang kaget melihat pesatnya perubahanku. Mengenai ejekan yang selalu ku dapat dulu, sudah tak pernah terdengar belakangan ini. Ku pikir, mungkin mereka sudah bosan dengan hal-hal itu. Toh aku masih tetap bersekolah disana. Hal yang paling mencengankan lagi adalah ketika aku mengikuti lomba cerdas cermat nasional dan dapat meraih juara umum satu. Kompetisi yang mana diikuti oleh peserta tingkat akhir dari seluruh SMA di Indonesia. Aku adalah satu-satunya peserta yang berada di tingkat dua. Hadiah yang ku dapat adalah beasiswa di universitas unggulan yang ada di Jepang. Sungguh prestasi yang luar biasa bukan? Mulai saat itu, aku seperti menemukan secercah harapan kehidupan. Tak ingin ku siakan. Sungguh aku bertekad keras dalam hati untuk berperang dalam dunia kelamku sendiri.
Tahun kedua ku di SMA Bina Bangsa memang tahun yang penuh perubahan. Guru-guruku sangat beda memperlakukan ku dengan anak-anak lainnya. Perlakuan yang lebih baik tentunya. Tidak seperti dulu yang kadang meremehkan ku. Begitu pula teman-teman ku. Tak ada satu orang pun dari mereka yang berani menghina ku. Bahkan mereka menjadi teman baikku saat ini. Berita gembira itu tak hanya civitas sekolah yang merasakannya. Melainkan di rumah kecil lusuh ku. Ibu adalah wanita yang paling bahagia. Ya, entah mengapa aku bisa meresapi perasaan itu. Aku mulai berubah. Lebih rajin untuk bekerja membersihkan rumah. lebih rajin memperhatikan keadaan di sekelilingku.
Tapi tunggu.  Bukan itu yang sebenarnya berubah dalam diriku. Yang berubah adalah aku sedikit lebih dekat dengan ibu. Aku seperti menemukan rasa nyaman bila dekat dengannya. Perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
***
Beberapa hari yang lalu saat hendak berangkat sekolah, mataku tertuju pada benda yang terletak di atas lemari kami. Ku temukan sebuah kotak lusuh berwarna coklat yang selama ini tak pernah terjamah oleh jemari ku. Ku biarkan jari-jari ini bergerak menggeledah kotak itu. Setelah ku lihat, di dalamnya berisi tumpukan amplop-amplop lusuh yang berisi surat. Tumpukan amplop itu sebagian berdebu, dan sebagian lainnya tidak. Mungkin itu adalah kumpulan amplop yang tertumpuk dari waktu yang berbeda, fikirku saat itu. Dari yang paling lama sampai yang tebaru. Itu artinya yang berdebu menunjukkan waktu yang sudah lama dan yang tidak begitu berdebu menunjukkan amplop yang terbaru.
Semakin penasaran ku di buatnya.  Tanpa pikir panjang, jari ini langsung mengambil satu amplop yang terletak paling atas. Kemudian ku bersihkan dengan sedikit gerakan kecil mengusap amplop itu. Sejurus kemudian ku balik amplop tadi. Dan ku temukan tulisan, “untuk adindaku”.
Seketika degub hatiku berdetak begitu kencangnya. Aku tidak mengerti mengapa bisa seperti itu. Bak terkena alat pemancing denyut jantung. Seumur hidupku baru kali ini aku merasakan sesuatu hal yang berbeda. Entah perasaan apa itu. Lagi-lagi aku sendiri pun tak mengerti. Untuk kesekian kalinya ku biarkan jemari ini merayap menyusuri amplop lusuh itu. Perlahan ku buka. Dan seketika ku baca tulisan yang ada di dalamnya. Ku baca surat itu kata demi kata, pesan demi kesan, dan tak terasa buliran air mata jatuh menyusuri pipi dan membasahi sedikit bajuku. Mata ku terasa panas. Kepala ku begitu berat. Dan seketika itu badanku terasa lemah.
Wanita yang selama ini ku benci. Yang selalu ku berikan ucapan dengan nada-nada tinggi. Yang sedikitpun tak pernah ku hiraukan perhatiannya, ternyata dia lah peri dalam hidupku. Ibu. Dia tetap memiliki hati untukku. Di dalam surat itu dituliskan betapa cintanya ia kepadaku. Betapa ia ingin selalu membuatku bahagia. Betapa keinginnanya memeluk dan mendekap tubuhku. Surat demi surat kubaca. Ternyata itu adalah rintihan perasaan ibu selama ini padaku. Oh ibu… betapa terlaknatnya aku. Ibu. Aku menangis sejadi-jadinya. Kali ini mataku benar-benar memerah. Bahkan membengkak. Seketika terbesit dalam benakku. Bagaimana bisa ibu menulis. Bukankah… bukankah kedua tangannya tidak ada. Pertanyaan itu terjawab dalam amplop terakhir, ku baca bahwa ibu sengaja belajar menulis menggunakan kaki. Ia belajar bersama bibi Yati. dan itu hanya untuk mengungkapkan rasa cintanya untukku.
Surat itu tak pernah sampai ke padaku karna ibu takut bahwa hal itu hanya akan merusak persahabatan kami. Dalam surat itu kudapati kata-kata sahabat yang ditawarkannya. Ibu memang bagaikan seorang sahabat. Sahabat sejati yang selama ini kubutuhkan. Yang selalu ku nantikan kehadirannya. Tak terasa, bulir air mata jatuh satu persatu menjadi saksi bisu antara aku dan perasaan ku.
Cepat-cepat ku simpan surat itu kedalam amplop dan menyembunyikannya di dalam tas sekolahku. Waktu menunjukkan pukul 06.55. Aku harus ke sekolah sekarang. Lima menit lagi gerbang sekolah akan di tutup. Maka pagi itu aku berlari bersama air mata yang deras membasahi pipiku.  
***
Pada saat pulang ke rumah, kudapati ibu sedang membereskan rumah. Aktivitas yang seperti biasa ia lakukan. Untuk yang pertama kali dalam hidupku. Aku mencium keningnya. Bersimpuh di hadapannya. Sekarang detak jantung ku bekerja jauh lebih kencang.
Sejak saat itu ibu. Sejak saat itulah hati dan perasaanku mulai mencair terhadap apa yang ada pada dirimu. Tapi ibu. Sungguh tak pernah terbesit dalam fikirku. Kau mampu berjuang berusaha untuk selalu tegar di hadapanku. Kau selalu berikan senyuman terindah dan termanis yang kau punya. Kau kerahkan segala sisa tenaga di usia senja mu. Kau mau untuk berusaha menulis demi mengungkapkan perasaan dari relung hati mu yang terdalam. Tak bisa ku bayangkan  ibu, jika aku dalam posisimu.
Tahun ini adalah tahun yang memberi warna-warni yang begitu pekat dalam hidupku. Rangkaian demi rangkaian cerita yang luar biasa besar, gejolak yang silih berganti, berbagai kejutan yang datang serta tiupan angin sepoi yang membelai sejarah hidupku. Mata itu. Penuh keteduhan. Ibu. Sekarang baru aku mengerti ada bahasa cinta di matamu.

Terkadang sebuah peristiwa memang dapat menjadikanmu dewasa.  
Mayang Bahtera Pertiwi

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »