Krisis fokus



Mata kuliah hari ini hanya satu saja yaitu “Akuntansi Biaya”. Hmm… Saya pribadi nih kalau denger kata “Akuntansi Biaya” ujung alis saya bergerak otomatis ketengah, walaupun belum mikir apa-apa.  Secara, itu mata kuliah pasti dan sudah pasti berhubungan dengan yang namanya analisis dan teori panjang. Setidaknya saya sudah punya gambaran saat dulu belajar di SMK. Dulu, setiap kali ada pelajaran akuntansi biaya, tiba-tiba kepala saya nyut-nyutan. Dan setiap kali pelajarannya berakhir, kesegaran jasmani dengan ramah menghampiri saya. Tiga siklus akuntansi keuangan saya jabanin deh. Dari pada akuntansi biaya yang isinya bikin kepala muter-muter keliling dataran Engku Putri. Hee…

Dan sekarang, cerita lama itu datang kembali menghantui saya. Bermula dari pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) di kampus. Ku temui nama AKUNTANSI BIAYA di KRS tersebut.
KLBK. Kenangan lama bersemi kembali. Huuaaaa…. Sudah terbayang di benak saya tentang rentetan text yang tersusun rapi. Halaman perhalaman, lembar per lembar, bahkan hingga menjadi sebuah buku tebal bak koran-koran bekas yang sudah terikat tinggal menunggu kiloannya. Waduuu, gak bayang deeeeh. (Maksudnya apa?@#$%^&*)
Tapi, fikiran buruk itu segera sirna setelah seorang bidadari datang membawa sinar. Ciieellaa. Ibu Meiliana. Sang dosen pembawa sinar ilmu akuntansi biaya. Yap. Beliau lah yang mengajari ku (dan teman-teman sekelas) tentang akuntansi biaya.
Ibu meiliana merupakan sosok yang menurut saya memiliki ketenangan emosional. Beliau dengan mudah membawa alunan suasana kelas menjadi suasana yang sangat nyaman namun tidak kaku. Kepiawaian beliau dalam berbicara berhasil merenggut hati saya untuk tiba-tiba menjadi pengagum rahasianya. Itulah alasan yang saya yakin akan berhasil dalam membasmi kuman-kuman penyakit yang hampir menggerogoti pandangan saya mengenai akuntansi biaya.
Tapi ada yang salah didiri saya pada saat itu. Kesalahan terbesar saya adalah MELAMUN di mata kuliah beliau. Saya juga tidak habis fikir kenapa seperti itu. Mungkin dikarenakan kekaguman pada pribadi yang luar biasa yang ada didiri beliau. (Alesaaan.. ). Padahal sang dosen mencertikakan kisah mata kuliah yang di bawanya dengan semangat, teratur, mudah dimengerti, tapi saya melamun.  Yang diperhatikan adalah alunan tangan Bu Mei yang bergerak ke sana kemari. Hadeuuh… Alhasil Cuma 30% materi yang nempel di kepala saya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »